Oleh: Firouz Khodayari
Dalam artikel kami sebelumnya, kami telah membahas tentang tata letak tambang dan bagaimana kelayakan ekonomi jangka panjang dari operasi Blok Caving dihitung berdasarkan berapa banyak cadangan yang dapat ditambang dan akan disalurkan ke bawah melalui beberapa ore dari waktu ke waktu. Proses penyaluran material ini merupakan salah satu perbedaan utama antara Block Caving dan metode penambangan lainnya dalam hal pengaruhnya terhadap produksi.
Batuan terfragmentasi di zona Caving tidak selalu bergerak ke bawah Ke poin penarikan di bawahnya. Material dapat mengalir di antara Kolom penarikan lain yang berdekatan sebelum akhirnya diekstraksi karena ukuran dan kecepatan partikel yang bervariasi. Batuan/material yang akan ditambang juga dapat patah dalam beberapa cara, sehingga sifat dari Blok Caving dan pencampuran aliran material tersebut akan menimbulkan ketidakpastian dalam parameter kunci seperti Grade an tonase.
Fragmentasi dalam operasi caving dapat dibagi menjadi tiga kategori:
• In-situ fragmentation, rekahan alami dan diskontinuitas yang ada di dalam batuan.
• Primary fragmentation, yang terjadi ketika partikel terlepas dari punggung cave saat undercut dibuat dan cav dimulai.
• Secondary fragmentation, terjadi ketika partikel yang terlepas bergerak di dalam kolom penarikan di zona caving. Proses fragmentasi ini dan aliran selanjutnya menciptakan ketidakpastian karena parameter seperti Grade dan tonase bukanlah kuantitas yang tetap. Akibatnya proses penambangan caving akan dipengaruhi, variabilitas dan keacakan (stochastic).
Sumber: 3DS Blog